Senin, 26 Maret 2012

DEKONSTRUKSI JACQUES DERRIDA ( Semiotika )



            Proses significance Kristeva sesungguhnya tidak berbeda dengan teori dekonstruksi yang digagas Jacques Derrida. Ia menyatakan bahwa dekonstruksi adalah sebagai alternatif untuk menolak segala keterbatasan penafsiran ataupun bentuk kesimpulan yang baku. Konsep dekonstruksi pada dasarnya dimaksudkan untuk menghilangkan struktur pemahaman tanda-tanda (signifier) melalui penyusunan konsep (signified).
Strategi dekonstruksi ini muncul karena dalam pemikiran struktural didapati bahwa bahasa bisa ada karena adanya sistem pembedaan (system of difference), dan inti dari sistem pembedaan ini adalah opsisi biner (binary oposition). Oposisi antara penanda/petanda, tuturan/tulisan, langue/parole. Oposisi dalam linguistik ini berjalan berdampingan dengan hal yang sama dalam tradisi filsafat Barat, antara makna/bentuk, jiwa/badan, transenden/imanen, baik/buruk, benar/salah, dan sebagainya. Dalam oposisi biner ini, menurut tradisi filsafat Barat, istilah-istilah yang pertama lebih superior dari yang kedua.
Karena oposisi biner dalam bahasa berjalan berdampingan dengan oposisi biner dalam tradisi filsafat Barat, maka menurut Derrida istilah-istilah tersebut adalah milik logos, yaitu kebenaran, atau kebenaran dari kebenaran. Sedangkan istilah-istilah yang kedua adalah representasi palsu dari yang pertama, atau bersifat inferior.
Dalam tradisi Saussurean terjadi penganakemasan tuturan, dan pelecehan tulisan. Tuturan menurut Saussure adalah kesatuan penanda dan petanda yang dianggap kelihatan menjadi satu dan sepadan, yang membangun sebuah tanda. Kebenaran adalah petanda, yaitu isi yang diartikulasikan oleh penanda yang berupa suara atau bentuk. Kebenaran yang semula eksternal dari penanda kemudian menjadi lekat dengan penanda itu sendiri dalam wujud bahasa (tanda). 
oleh : Dr. H. Ahmad Muzakki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar