Kamis, 19 April 2012

ANDI SI BOCAH TELADAN



Lagi-lagi kondisi ekonomi yang sangat sulit memaksa Andi harus dewasa di usianya yang masih 15 tahun. Sehari-harinya, sepulang sekolah Andi membantu orang tuanya mencari rumput untuk pakan dua ekor kambing yang dimiliki orang tuanya selain menjalani tugas belajar sebagai siswa di Mts.Miftahul Huda Pagedangan Turen Malang, Kadangkala, dia ikut juga membantu ekonomi keluarganya dengan menjadi buruh serabutan.
Andi merupakan putra sulung almarhum Suyono dan Wati. Sejak ayahnya meninggal, Andi tinggal bersama ibunya Wati dan adiknya Siti. Sejak itu pula, keluarga ini berjuang untuk melanjutkan hidupnya dari hari ke hari dengan menjadi buruh serabutan dan mencari rumput buat pakan ternak mereka.
Aktivitas ini sama sekali tak pernah terbersit dalam benak Andi untuk dilakoni. Namun ketabahan ibunya dalam menjalani itu semua membuat Andi cuek terhadap kondisi keluarganya saat ini. Dan, siapa menyangka, dari aktivitas jadi buruh serabutan dan mencari rumput, Andi justru menjadi siswa teladan di sekolahnya, dengan menyabet rangking satu dua tahun berturut-turut.
Andi sendiri mengaku kagum dengan sosok ibunya. Sosok belia ini penuh dengan harapan dan cita-cita meski kenyataannya hidup dibawah tekanan. “Saya sangat mengagumi sosok ibu saya,” kata Andi.
Dari dukungan ibunya, Andi mendapat sokongan semangat bahwa hidup itu memang harus dijalani. Suka duka harus diarungi tanpa harus menanggalkan cita-cita atau harapan. Soal cita-cita, Andi sendiri mengaku hendak menjadi Guru.
Apa yang dialami Andi itu ternyata tak berlebihan. Ibunya, Wati menuturkan bagaimana pedihnya membesarkan Andi dan adiknya, Siti. Saat menerima kenyataan bahwa harus ditinggalkan suaminya, Wati harus berjuang seorang diri membesar dua anaknya.
Pernah sekali waktu, saat keluarganya harus rela kehilangan 4 ekor ayam yang berada dikandang belakang rumahnya. Ceritanya, saat itu Wati dan kedua anaknya tidak merasakan sama sekali kehadiaran tamu tak diundang alias maling ayam tersebut mengambil ayam mereka. Padahal rencananya ayam tersebut mau dijual untuk membeli seragam Siti yang sudah lusuh . “Saya cuma bisa bersabar saja,” kata Wati saat ditanya mengenai musibah yang dialaminya.
Meski hidup serba kekurangan, ada satu hal yang selalu diajarkan Wati kepada dua orang anaknya yakni keikhlasan. Karena itulah Andi dan keluarganya terkenal baik dimata linkungan masyarakat tempat ia dan keluarganya tinggal. Andi banyak memiliki teman dan kerap kali terlihat ikhlas membantu teman yang lagi kesusahan tanpa diminta.
Dengan prestasi yang diperoleh Andi, Wati kini tambah semangat. Apa yang dia yakini dan lakukan selama ini ternyata tidak sia-sia. Dia pun berharap, anaknya itu bisa mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar