Lagi-lagi kondisi
ekonomi yang sangat sulit memaksa Andi harus dewasa di usianya yang masih 15 tahun.
Sehari-harinya, sepulang sekolah Andi membantu orang tuanya mencari rumput
untuk pakan dua ekor kambing yang dimiliki orang tuanya selain menjalani tugas
belajar sebagai siswa di Mts.Miftahul Huda Pagedangan Turen Malang, Kadangkala,
dia ikut juga membantu ekonomi keluarganya dengan menjadi buruh serabutan.
Andi merupakan
putra sulung almarhum Suyono dan Wati. Sejak ayahnya meninggal, Andi tinggal
bersama ibunya Wati dan adiknya Siti. Sejak itu pula, keluarga ini berjuang
untuk melanjutkan hidupnya dari hari ke hari dengan menjadi buruh serabutan dan
mencari rumput buat pakan ternak mereka.
Aktivitas ini sama
sekali tak pernah terbersit dalam benak Andi untuk dilakoni. Namun ketabahan
ibunya dalam menjalani itu semua membuat Andi cuek terhadap kondisi keluarganya
saat ini. Dan, siapa menyangka, dari aktivitas jadi buruh serabutan dan mencari
rumput, Andi justru menjadi siswa teladan di sekolahnya, dengan menyabet
rangking satu dua tahun berturut-turut.
Andi sendiri
mengaku kagum dengan sosok ibunya. Sosok belia ini penuh dengan harapan dan
cita-cita meski kenyataannya hidup dibawah tekanan. “Saya sangat mengagumi
sosok ibu saya,” kata Andi.
Dari dukungan
ibunya, Andi mendapat sokongan semangat bahwa hidup itu memang harus dijalani.
Suka duka harus diarungi tanpa harus menanggalkan cita-cita atau harapan. Soal
cita-cita, Andi sendiri mengaku hendak menjadi Guru.
Apa yang dialami Andi itu ternyata tak
berlebihan. Ibunya, Wati menuturkan bagaimana pedihnya membesarkan Andi dan
adiknya, Siti. Saat menerima kenyataan bahwa harus ditinggalkan suaminya, Wati
harus berjuang seorang diri membesar dua anaknya.
Pernah sekali waktu,
saat keluarganya harus rela kehilangan 4 ekor ayam yang berada dikandang
belakang rumahnya. Ceritanya, saat itu Wati dan kedua anaknya tidak merasakan
sama sekali kehadiaran tamu tak diundang alias maling ayam tersebut mengambil
ayam mereka. Padahal rencananya ayam tersebut mau dijual untuk membeli seragam
Siti yang sudah lusuh . “Saya cuma bisa bersabar saja,” kata Wati saat ditanya
mengenai musibah yang dialaminya.
Meski hidup serba kekurangan,
ada satu hal yang selalu diajarkan Wati kepada dua orang anaknya yakni
keikhlasan. Karena itulah Andi dan keluarganya terkenal baik dimata linkungan
masyarakat tempat ia dan keluarganya tinggal. Andi banyak memiliki teman dan kerap
kali terlihat ikhlas membantu teman yang lagi kesusahan tanpa diminta.
Dengan prestasi
yang diperoleh Andi, Wati kini tambah semangat. Apa yang dia yakini dan lakukan
selama ini ternyata tidak sia-sia. Dia pun berharap, anaknya itu bisa
mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar